Perjuangan meraih IELTS 6.5

Perjuangan meraih IELTS 6.5

By Irham Amir El-Ikromy
Sahabat sekalian
tulisan di bawah ini bercerita tentang perjuangan saya meraih IELTS 6.5
-------------------------------------------------------------------------

Saya mengenal IELTS (International English Language Testing System) pada tahun terakhir kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir tahun 2014. Ya.. hanya sekedar tahu, tanpa ada keinginan mendalaminya. Setelah Pulang ke Indonesia pada minggu kedua Desember 2014, saya beristirahat sejenak di kampung (Payakumbuh) selama 2 minggu. Lalu, pada tgl 2 Januari 2015 saya berangkat ke Pare (Kampung Inggris) Jawa Timur untuk mendalami IELTS sebagai salah satu syarat s2 luar negeri.

IELTS 6.5? insya allah mudah karena selama saya ujian bahasa inggris dari SD sampai SMA nilai saya rata2 tujuh ke atas (inilah fikiran pertama saya yang belum tau apa itu IELTS dan saya gak sadar diri 4 tahun di Mesir full bahasa Arab). Sesampai di salah satu kursusan di Pare, saya konsultasi mengenai hal ini dengan bbrp tutor. Luar biasanya, setelah berdiskusi, nyali saya ciut melihat fakta dan realita para IELTS catchers sehingga saya putar haluan belajar TOEFL selama 1 bulan untuk nyambung kuliah ke Qatar. Hasil tertinggi TOEFL saya setelah scoring lebih kurang 30 kali selama sebulan adalah hanya 497, padahal Qatar University mensyaratkan score 550. Begitulah, saya pusing lagi bagaimana menghandle kendala ini.

Allah menolong saya melalui diskusi dengan seorang teman lulusan UGM fakultas ekonomi. Hasil diskusi kami menyimpulkan saya ambil IELTS selama 3 bulan dan kembali pada rencana awal s2.

Pilihan saya jatuh pada English Studio. Lebih kurang 5 bulan belajar formal dan 4 bulan informal telah saya alokasikan hanya untuk mempersiapkan tes IELTS pertama. Januari 2016 menjadi tes IELTS pertamaku di IDP semarang (biaya tes ketika itu Rp, 2.825.000). Alhamdulillah gagal karena masih ada elemen2nya dibawah 6, namun aku bangga karena writingku 6.5 :D. Tak bisa dipungkiri aku down. Ketika pulang ke kampung aku selalu minta dibikinin teh pahit karena pengen ngerasain pahitnya hidup ini Eaaa Tes kedua saya ambil di IALF Surabaya pada pertengahan Maret, Alhamdulillah dibayarin kursusan. Sedihnya, di hari H, demam dan pilek, suara terasa berat. Semua saya pasrahkan pada Allah SWT, dan ternyata Alhamdulillah hasilnya merata semua elemen scorenya 6 ke atas dengan Overall 6.5. Tes terakhir pada bulan Mei di British council Jakarta di bayar oleh Dompet Dhuafa sebagai salah satu program mereka sebagai peserta BIPS (Beastudi Indonesia Preparatory School) yang sebelumnya kita di karantinakan(5 orang pengajar IELTS, 3 nya dari UK), leadership dan Keislaman selama 1.5 bulan. Alhamdulillah meskipun masih Overall 6.5, ada peningkatan di salah satu elemen tesnya (reading, listening, writing and speaking). Yeay

Percaya deh, terlalu lama belajar IELTS, bikin jenuuuuhhhh. Jika di jumlahkan, 5+5+1.5+1.5= 13 bulan persiapan IELTS untuk meraih 6.5. Capek, Sakit, Marah, Sedih, Kecewa dan bahagia menghiasi perjuangan ini. jangan terlena dengan kecilnya angka 6.5, krn itu adalah syarat untuk kuliah di mayoritas kampus luar negeri saat ini. Mesti di catat: Saya gagal tes pertama karena beberapa hal:
1. Nervous. Sehingga tidak bisa fokus selama ujian
2. External problem, sebaiknya bagi teman2 yang akan menghadapi tes IELTS, hindari poin ini.

Imam Syafi berkata: siapa yang belum merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat, dia akan tenggelam dalam hinanya kebodohan selama hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *